Perkumpulan Pancur Kasih disingkat PPK atau biasa disebut Pemberdayaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Kalimantan (PPSDAK Pancur Kasih) adalah lembaga anggota Konsorsium Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih yang memperjuangkan terwujudnya kedaulatan ruang berbasis kearifan lokal dan pusat layanan informasi ekologis Kalimantan. Pada awalnya PPSDAK Pancur Kasih merupakan unit program dan/atau divisi dari Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) yang berdiri pada tanggal 24 April 1981--terdaftar di Notaris Tomi Tjoa Keng Liet, SH pada tahun 1981, No. 86. Sejak tahun 2002, perubahan Akta Notaris dan terdaftar di Notaris Veronica Elisabeth Elly, SH dengan Akta No. 52 atas nama Perkumpulan, dilanjutkan dengan perubahan Akta Notaris pada Februari 2013 yang terdaftar di Notaris Ali, SH dengan Akta No. 22. Pancur Kasih adalah Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Nirlaba yang berbasis di Pontianak, Kalimantan Barat. PPSDAK Pancur Kasih yang dibentuk oleh YKSPK semula merupakan kepanjangan dari Pembinaan Pengelolan Sumberdaya Alam Kerakyatan--diinisiasi secara formal pada 22 April 1995.

Kala itu, tahun 1981, A.R. Mecer, A. Milon Somak, Maran Marcellinus A., P. Heliodorus, OFM. Cap, Syaikun Riady, dan Firmus Kadri mendirikan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) untuk merespon persoalan sosial dan tantangan yang dihadapi masyarakat adat Dayak di bidang pendidikan, ekonomi, sumber daya alam dan ekologi di Kalimantan Barat. Untuk menjawab tantangan-tantangan itu pula, maka dalam perkembangan selanjutnya digagas dan didirikan berbagai unit/program dan lembaga-lembaga yang tergabung dalam Konsorsium Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK).


Pada tahun 1990, masyarakat adat Tering Lama di Kalimantan Timur berjuang mempertahankan wilayah adat mereka dan sukses menolak PT. Kelian Equatorial Mining (PT. KEM) dengan menggunakan peta buatan Belanda. Tahun 1992, beberapa aktivis Pancur Kasih dikirim ke Kalimantan Timur untuk belajar tentang pemetaan dalam momen ketika WWF membuat peta di Long Uli, di pinggiran Taman Nasional Kayan Mentarang. Tahun 1993, IDRD (sekarang Institut Dayakologi) mengutus aktivis Pancur Kasih untuk ikut dalam penelitian tentang Sensus bersama Jeff Fox. Kala itu, 3 (tiga) aktivis Pancur Kasih kembali dikirim oleh IDRD untuk ikut pelatihan Pemetaan di University of Hawaii, USA. Tahun 1994, IDRD dan LBBT mengadakan pelatihan Pemetaan Partisipatif di Sidas Daya dengan Alex Flavelle (asal Canada) sebagai fasilitator & intsruktur. Pelatihan ini diikuti oleh utusan  masyarakat adat dari Kalbar, Kaltim dan 10 orang aktivis NGOs dan orang asal dari Sarawak, Malaysia. Peta Kampung Sidas Daya adalah hasil Pemetaan Partisipatif yang pertama kali dihasilkan. Proses pemetaan partisipatif di Sidas Daya itu penuh dengan peran dan keterlibatan warga masyarakat Sidas Daya dengan kontribusi warga seperti beras, sayur-mayur, lauk-pauk, tenaga, waktu, dan perlengkapan pendukung lainnya hingga rumah tinggal. Pada tahun 1995, Matheus Pilin diutus oleh IDRD untuk mengikuti “Pertukaran NGOs Indonesia-Canada” di British Colombia Canada, mempelajari penggunaan peta sebagai alat pengorganisasian, perencanaan dan advokasi di “bengkel” pemetaan komunitas Indian. Tahun 1995, YKSPK-IDRD-LBBT membentuk Steering Committe mendirikan unit program khusus untuk fasilitasi pemetaan partisipatif yang bernama Program Pemberdayaan Sumberdaya Alam Kerakyatan Pancur Kasih (PPSDAK-Pancur Kasih, sekarang PPK), dan sejak itu kegiatan pemetaan partisipatif terus digencarkan di kampung-kampung, seperti di Bukang, Balai Semandang, dan seterusnya. PPSDAK-PK (sekarang PPK) bersama jaringan NGOs nasional mendirikan Jaringan Pemetaan Partisipatif (JKPP) sebagai wadah konsolidasi dan capacity building gerakan pemetaan partisipatif di Indonesia. Tahun 1996-1999, aktivis PPSDAK-PK (sekarang PPK) memfasilitasi pemetaan partisipatif kampung, selain di Kalimantan Barat, juga di Kaltim, Kalteng, Kalsel, Kepulauan Mentawai hingga Papua. Selain itu juga memfasilitasi pendidikan dan pelatihan serta pendampingan peserta magang dari komunitas dan NGOs nasional di Kalimantan Barat.

Sejak 1994 sampai September 2015, Pancur Kasih telah berhasil memfasilitasi Pemetaan Partisipatif sebanyak 390 kampung yang terdapat di 127 desa, 43 kecamatan dan 9 kabupaten dari 14 Kabupaten/kota dengan total luas wilyah 1.621.735.96 Ha atau 11,04% dari total luas wilayah Kalbar 14,685,268 Km2. Peta yang dihasilkan meliputi Tematik Peta:
1.  Peta Tata Guna Lahan.
2.  Peta Pemukiman Penduduk.
3.  Peta Daerah Aliran Sungai.
4.  Peta Penyebaran Pohon
5.  Peta Penyebaran Binatang.
6.  Peta Perencanaan Tata Guna Lahan.
7.  Peta Tempat Keramat dan Kuburan.
8.  Peta Referensi.

Selain memfasilitasi Pemetaan Partisipatif di Kalimantan Barat, Pancur Kasih juga bekerja sama dengan berbagai LSM sebagai fasilitator, instruktur, dan konsultan dari Trainning Sistem Informasi Geografis (GIS) dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan Pemetaan Partisipatif di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Pulau Mentawai-Sumatera Barat dan beberapa daerah di Papua. 

Pada tahun 2010-2013, Pancur Kasih dan beberapa LSM bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten melakukan Perencanaan Tata Ruang Perdesaan menuju One Map Policy, kerjasama ini dikonkretkan dengan diwujudkan dalam MoU dan membentuk Sekretariat Bersama untuk Perencanaan Tata Ruang Perdesaan di Kabupaten Sanggau. Bentuk konkret dari implementasi MoU ini adalah antara AMAN & Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Komisi Lingkungan, AMAN-Kalimantan Barat dan Badan Pertanahan Nasional Kalimantan Barat.

Dalam rangka membangun jaringan dan advokasi, Pancur Kasih kerap diundang oleh berbagai forum nasional maupun internasional, dalam even seminar maupun konferensi untuk sharing tentang pengalaman dan gerakan pemetaan partisipatif selama kurang lebih 20 tahun ini.