BUPATI SANGGAU SAHKAN PETA WILAYAH ADAT DESA PISANG DAN KETORI
 
Gerakan Pancur Kasih

pancurkasihadalahkita
# 01_51118

BUPATI SANGGAU SAHKAN PETA WILAYAH ADAT DESA PISANG DAN KETORI

JANGKANG, KAB. SANGGAU - Masyarakat adat 6 kampung / dusun, Desa Pisang, Kecamatan Jangkang, Kab. Sanggau yang bangga karena hasil pemetaan partisipatif daerah adat yang mencakup 6 kampung telah disahkan Bupati Sanggau, Paolus Hadi, S.Ip., M.Si, Sabtu (27/10). Bupati Sanggau, dalam sambutannya Menyerahkan semua kebutuhan pengajuantututan bagi masyarakat adat desa Pisang segera menggunakan dan mengirimkan kepada bupati melalui Bappeda Sanggau agar bisa mengolahnya. "Semua persyaratan yang meminta tanggung jawab masyarakat adat desa Pisang bisa jadi secepatnya dan segera melalui bupati melalui Bappeda Sanggau agar bisa segera ditindaklanjuti," kata kerja saat bersama Camat Jangkang. Bupati beserta pimpinan OPD yang ikut dalam rombongan, diancang Kepala Bappeda Sanggau, Dinas Pertanian, anggota Polres Sanggau, Camat Jangkang, Camat Noyan hadir di Pisang hingga pukul 14.30 Wib. Di Desa Pisang bupati juga ramah tamah dan makan bersama dengan seluruh warga yang hadir.

Desa Pisang dihuni oleh hampir semuanya Dayak Jongkakng Tojo '. Luas wilayah adatnya 25.000 lebih, yang tidak kurang dari 50% di cari dari hutan lindung dan hutan produksi. Bawas termasuk karet 45%. Persawahan 300-an hektar (3%). Dilihat dari aspek mata pencahariannya, Desa Pisang bertipologi sebagai ladang dengan potensi pertanian sawah yang cukup menjanjikan. Potensi lainnya adalah lada dan rotan. Tradisi iruh atau kemitraan yang ada di desa Pisang yang masih hidup. Topografi dataran yang berbunga menambah potensi sawah dan pembangunan jaringan irigasinya.

Pak Antonius Ago mengatakan harapannya pemerintah dan masyarakat adat di Desa Pisang. "Kami minta agar Pemerintah Kab. Sanggau mengakui dan melindungi masyarakat adat yang tinggal di daerah adat Desa Pisang ini. Kami juga sangat mengharapkan agar bapak bupati membantu kami dalam pengadaan gong dan perangkat mendukung ritual adat yang tidak ada lagi," harapnya saat membacakan posisi tertulis itu. Sementara itu, Pengurus Konsorsium Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih yang diwakili Ansila Twiseda Mecer dalam sambutannya dengan hasil-hasil pemetaan, baik peta maupun dokumen profil sosial-budaya dan ekologis Pisang lewat alat, bukan tujuan, dalam hal ini. tepat dan bijak sesuai potensi dan kearifan lokal.

Bonua Jongkakng Tobuas, Desa Ketori

Dari Desa Pisang, Bupati Sanggau dan rombongan melanjutkan ke Desa Ketori berkendaraan sepeda motor melalui jalan antar- Dusun / kampung yang diterjunkan oleh kawasan hutan lintang Kampung Rosak, Entawak, Sabang, Tebuas dan Selabau.

Bupati Sanggau juga sahkan peta adat daerah Bonua Jongkakng Tobuas pada Sabtu (27/10) pukul 16.45 Wib sakit itu. Di Desa yang didiami subsuku Dayak Jongkakng Tebuas itu bupati dan runjungan tiba pukul 16.00 Wib. Sekitar 200-an warga masih setia menunggu. Tarian dari siswa / i SMP dan ritual adat bobibu sambutan rombongan bupati. Rtual dipimpin tukang pomang, serikat memohon kepada ponompa betara agar acara berlangsung lancar; bagi seluruh masyarakat dan para pihak yang diundang. Desa yang sekitar 98% dari kurang lebih 32.000 hektar total luasnya itu berstatus kawasan hutan

Dayak Jongkakng Tebuas tersebar di 7 dusun / kampung di wilayah Desa Ketori. Jumlahnya 2.222 jiwa, hampir semuanya berladang, sawah, selain berkebun lada. (mg)

[Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=565265720595857&id=538283619960734&__tn__=K-R, diunggah pada tanggal 24/11/2018, pkl. 2:17 Wiba].

Gambar dapat berisi: 1 orang, duduk dan berdiri
Gambar dapat berisi: 1 orang, duduk dan dalam ruangan