PUPUK CAIR: Proses pembuatan pupuk organik cair dari bahan gula merah-air kelapakeong.

Tanaman Hutan Lokal untuk Restorasi Gambut dan Kesejahteraan Petani DUA tahun lalu, pada Konferensi Para Pihak (COP21) dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB Mengenai Perubahan Iklim (UNFCC) di Paris, Perancis, Presiden Joko Widodo menyatakan komitmen Pemerintah Indonesia mengurangi emisi sebesar 29% (upaya nasional) dan 41% (bantuan internasional) pada 2030. Dalam bidang tata kelola hutan dan sektor lahan, upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah menerapkan one map policy dengan menetapkan moratorium dan review izin pemanfaatan lahan gambut, pengelolaan lahan dan hutan produksi lestari, serta membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG). Perubahan iklim dunia menuntut respon serius dan berkelanjutan menyasar pada ekosistem alam maupun manusianya. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi perubahan iklim adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Karhutla di Kalimantan Barat yang berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan kerusakan ekologis masih kerap terjadi. Karena itu, perlu langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan oleh berbagai pihak. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak (2016) menunjukkan hotspot di Kalbar tahun 2015 dan 2016. Berdasarkan Pantauan Sensor Modis (Satelit Aqua/Tera) dan Satelit NOAA adalah 4.286 dan 2.267 titik pada 2015, dan 3.621 dan 1.487 hotspot pada 2016. Meski menurun, angka tersebut masih tergolong tinggi. Ketapang dan Kubu Raya Untuk meningkatkan kepedulian dampak Karhutla, maka perlu digelar sosialisasi, diseminasi dan pendidikan pada masyarakat. Selain itu, inisiatif lokal dalam merestorasi ekosistem gambut dan kawasan rentan terbakar juga perlu didukung. Inisiatif ini bertujuan mengurangi laju kerusakan hutan dan penurunan kualitas daya dukung lingkungan hidup, khususnya di Ketapang dan Kubu Raya.

Sehubungan itu, lembaga Perkumpulan Pancur Kasih (PPK) melalui dukungan pendanaan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) memfasilitasi sejumlah aktivitas berbasis masyarakat dan lahan di Kubu Raya dan Ketapang. ICCTF merupakan satuan kerja Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas berbentuk Lembaga Wali Amanat Perubahan Iklim yang fungsinya memobilisasi, mengelola, dan mengalokasikan dana internasional, sektor publik dan swasta untuk memfasilitasi pendanaan program dan proyek yang selaras dengan target mitigasi dan adaptasi nasional. Direktur Perkumpulan Pancur Kasih, Matheus Pilin, mengatakan, saat ini sedang berlangsung pelatihan restorasi dan pencegahan Karhutla untuk empat desa di Kubu Raya dan tiga desa di Ketapang. “Sebanyak 510 orang warga Kubu Raya dan Ketapang sedang memperoleh pelatihan restorasi dan pencegahan karhutla yang diinisiasi Perkumpulan Pancur Kasih,’’ katanya. Selain itu, berlangsung proses penyediaan bibit tengkawang, coklat, petai, kopi dan karet. ‘’Sebanyak 65.400 polybag bibit disemai di lahan-lahan milik petani yang didampingi di wilayah kecamatan Sungai Ambawang dan Kuala Mandor B, Kubu Raya, serta Kecamatan Simpang Hulu dan Hulu Sungai, Ketapang, yang merupakan ekosistem gambut dan kawasan yang rentan terbakar,” tambahnya. Kepala Manggala Agni/DAOPS Wilayah Pontianak tahun 2017, Sahat Irawan Manik, SH, menyambut baik inisiatif ini. “Kami mengapresiasi teman-teman NGO dalam memitigasi dan adaptasi Karhutla, dan tentu saja kami (Red: DAOPS Wilayah Pontianak) senang karena ada mitra kami di lapangan,” ungkapnya. Sementara itu, Sekretaris Desa Menyumbung, Alfonsius Supriadi menyambut baik pelatihan restorasi ekosistem gambut dan pencegahan Karhutla pada kelompok tani di desanya (29/4). “Selama ini jarang ada pendampingan langsung seperti ini.

Warga kami sangat antusias mengikuti pelatihan tentang bagaimana cara-cara menggunakan bahan-bahan organik untuk meningkatkan kesuburan lahan,” ujarnya. Salah satu peserta pelatihan di Desa Sungai Enau, Kec. Kuala Mandor B, Angelina mengaku sangat senang karena berkesempatan mengikuti pelatihan. Libatkan Sekolah dan Puskesmas Sejumlah kegiatan juga akan dilakukan dalam waktu dekat, yakni sosialisasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang melibatkan siswa-siswi dari 50 SMP dan SMA di Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, dan Ketapang. Juga petugas kesehatan dari 20 Puskesmas di tiga kabupaten dan Kota Pontianak. Koordinator kegiatan, Lorensius Tatang, menjelaskan pentingnya melibatkan sekolah dan puskesmas untuk memperluas cakupan penerima manfaat kegiatan-kegiatan tersebut. “Program ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan 510 orang masyarakat adat/lokal yang tergabung dalam kelompok tani melalui pendidikan dan pelatihan agroforestry untuk merestorasi 323 hektare ekosistem gambut dan kawasan rentan terbakar dengan menanam sebanyak 65.400 bibit terdiri dari tengkawang, coklat, petai, kopi dan karet.

Selain dapat menyejahterakan petani, restorasi ekosistem gambut dan kawasan rentan terbakar juga diharapkan mampu menyerap dan melepaskan karbon sehingga dapat mengurangi emisi karbon di dua daerah tersebut. ‘’Metode setiap kegiatan bersifat ramah lingkungan,” ungkap Lorensius Tatang.[*]

Sumber: https://www.pontianakpost.co.id/perkumpulan-pancur-kasih-dan-icctf-tanam-65400-bibit, 31 Mei 2017.

Narasi: Loren & R.Giring.

Foto: L.Tatang, Fredrik, Linggi, Luri.