Developed in conjunction with Ext-Joom.com

Acara Kedepan

Perkumpulan Pancur Kasih disingkat PPK atau biasa disebut Pemberdayaan Pengelolaan Sumberdaya Alam Kalimantan (PPSDAK Pancur Kasih) adalah lembaga anggota Konsorsium Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih yang memperjuangkan terwujudnya kedaulatan ruang berbasis kearifan lokal dan pusat layanan informasi ekologis Kalimantan. Pada awalnya PPSDAK Pancur Kasih merupakan unit program dan/atau divisi dari Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) yang berdiri pada tanggal 24 April 1981--terdaftar di Notaris Tomi Tjoa Keng Liet, SH pada tahun 1981, No. 86. Sejak tahun 2002, perubahan Akta Notaris dan terdaftar di Notaris Veronica Elisabeth Elly, SH dengan Akta No. 52 atas nama Perkumpulan, dilanjutkan dengan perubahan Akta Notaris pada Februari 2013 yang terdaftar di Notaris Ali, SH dengan Akta No. 22. Pancur Kasih adalah Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Nirlaba yang berbasis di Pontianak, Kalimantan Barat. PPSDAK Pancur Kasih yang dibentuk oleh YKSPK semula merupakan kepanjangan dari Pembinaan Pengelolan Sumberdaya Alam Kerakyatan-- diinisiasi secara formal pada 22 April selengkapnya
Perkumpulan Pancur Kasih dan ICCTF Tanam 65.400 Bibit
Perkumpulan Pancur Kasih dan ICCTF Tanam 65.400 Bibit
Perkumpulan Pancur Kasih Bersama ICCTF Merespon Perubahan Iklim dan Karhutla
Perkumpulan Pancur Kasih Bersama ICCTF Merespon Perubahan Iklim dan Karhutla
Koalisi HAK Kalbar Desak Percepatan Penetapan Hutan Adat
Koalisi HAK Kalbar Desak Percepatan Penetapan Hutan Adat
PUPUK CAIR: Proses pembuatan pupuk organik cair dari bahan gula merah-air kelapakeong.

Tanaman Hutan Lokal untuk Restorasi Gambut dan Kesejahteraan Petani DUA tahun lalu, pada Konferensi Para Pihak (COP21) dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB Mengenai Perubahan Iklim (UNFCC) di Paris, Perancis, Presiden Joko Widodo menyatakan komitmen Pemerintah Indonesia mengurangi emisi sebesar 29% (upaya nasional) dan 41% (bantuan internasional) pada 2030. Dalam bidang tata kelola hutan dan sektor lahan, upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah menerapkan one map policy dengan menetapkan moratorium dan review izin pemanfaatan lahan gambut, pengelolaan lahan dan hutan produksi lestari, serta membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG). Perubahan iklim dunia menuntut respon serius dan berkelanjutan menyasar pada ekosistem alam maupun manusianya. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi perubahan iklim adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Karhutla di Kalimantan Barat yang berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan kerusakan ekologis masih kerap terjadi. Karena itu, perlu langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan oleh berbagai pihak. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak (2016) menunjukkan hotspot di Kalbar tahun 2015 dan 2016. Berdasarkan Pantauan Sensor Modis (Satelit Aqua/Tera) dan Satelit NOAA adalah 4.286 dan 2.267 titik pada 2015, dan 3.621 dan 1.487 hotspot pada 2016. Meski menurun, angka tersebut masih tergolong tinggi. Ketapang dan Kubu Raya Untuk meningkatkan kepedulian dampak Karhutla, maka perlu digelar sosialisasi, diseminasi dan pendidikan pada masyarakat. Selain itu, inisiatif lokal dalam merestorasi ekosistem gambut dan kawasan rentan terbakar juga perlu didukung. Inisiatif ini bertujuan mengurangi laju kerusakan hutan dan penurunan kualitas daya dukung lingkungan hidup, khususnya di Ketapang dan Kubu Raya.

Sehubungan itu, lembaga Perkumpulan Pancur Kasih (PPK) melalui dukungan pendanaan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) memfasilitasi sejumlah aktivitas berbasis masyarakat dan lahan di Kubu Raya dan Ketapang. ICCTF merupakan satuan kerja Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas berbentuk Lembaga Wali Amanat Perubahan Iklim yang fungsinya memobilisasi, mengelola, dan mengalokasikan dana internasional, sektor publik dan swasta untuk memfasilitasi pendanaan program dan proyek yang selaras dengan target mitigasi dan adaptasi nasional. Direktur Perkumpulan Pancur Kasih, Matheus Pilin, mengatakan, saat ini sedang berlangsung pelatihan restorasi dan pencegahan Karhutla untuk empat desa di Kubu Raya dan tiga desa di Ketapang. “Sebanyak 510 orang warga Kubu Raya dan Ketapang sedang memperoleh pelatihan restorasi dan pencegahan karhutla yang diinisiasi Perkumpulan Pancur Kasih,’’ katanya. Selain itu, berlangsung proses penyediaan bibit tengkawang, coklat, petai, kopi dan karet. ‘’Sebanyak 65.400 polybag bibit disemai di lahan-lahan milik petani yang didampingi di wilayah kecamatan Sungai Ambawang dan Kuala Mandor B, Kubu Raya, serta Kecamatan Simpang Hulu dan Hulu Sungai, Ketapang, yang merupakan ekosistem gambut dan kawasan yang rentan terbakar,” tambahnya. Kepala Manggala Agni/DAOPS Wilayah Pontianak tahun 2017, Sahat Irawan Manik, SH, menyambut baik inisiatif ini. “Kami mengapresiasi teman-teman NGO dalam memitigasi dan adaptasi Karhutla, dan tentu saja kami (Red: DAOPS Wilayah Pontianak) senang karena ada mitra kami di lapangan,” ungkapnya. Sementara itu, Sekretaris Desa Menyumbung, Alfonsius Supriadi menyambut baik pelatihan restorasi ekosistem gambut dan pencegahan Karhutla pada kelompok tani di desanya (29/4). “Selama ini jarang ada pendampingan langsung seperti ini.

Warga kami sangat antusias mengikuti pelatihan tentang bagaimana cara-cara menggunakan bahan-bahan organik untuk meningkatkan kesuburan lahan,” ujarnya. Salah satu peserta pelatihan di Desa Sungai Enau, Kec. Kuala Mandor B, Angelina mengaku sangat senang karena berkesempatan mengikuti pelatihan. Libatkan Sekolah dan Puskesmas Sejumlah kegiatan juga akan dilakukan dalam waktu dekat, yakni sosialisasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang melibatkan siswa-siswi dari 50 SMP dan SMA di Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, dan Ketapang. Juga petugas kesehatan dari 20 Puskesmas di tiga kabupaten dan Kota Pontianak. Koordinator kegiatan, Lorensius Tatang, menjelaskan pentingnya melibatkan sekolah dan puskesmas untuk memperluas cakupan penerima manfaat kegiatan-kegiatan tersebut. “Program ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan 510 orang masyarakat adat/lokal yang tergabung dalam kelompok tani melalui pendidikan dan pelatihan agroforestry untuk merestorasi 323 hektare ekosistem gambut dan kawasan rentan terbakar dengan menanam sebanyak 65.400 bibit terdiri dari tengkawang, coklat, petai, kopi dan karet.

Selain dapat menyejahterakan petani, restorasi ekosistem gambut dan kawasan rentan terbakar juga diharapkan mampu menyerap dan melepaskan karbon sehingga dapat mengurangi emisi karbon di dua daerah tersebut. ‘’Metode setiap kegiatan bersifat ramah lingkungan,” ungkap Lorensius Tatang.[*]

Sumber: https://www.pontianakpost.co.id/perkumpulan-pancur-kasih-dan-icctf-tanam-65400-bibit, 31 Mei 2017.

Narasi: Loren & R.Giring.

Foto: L.Tatang, Fredrik, Linggi, Luri.

FOTO BERSAMA: Peserta utusan Puskesmas berfoto bersama narasumber dalam acara Diseminasi Karhutla.

PERUBAHAN iklim secara ekstrim menuntut respon berkelanjutan terhadap ekosistem alam dan manusianya. Respon berbasis masyarakat dan tanaman hutan lokal dilakukan oleh Perkumpulan Pancur Kasih (PPK) bersama Satuan Kerja Majelis Amanat Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia (ICCTF) Kementerian BAPPENAS.

Sosialisasi dan diseminasi tentang mitigasi, adaptasi Karhutla dan perubahan iklim dilaksanakan untuk para petugas kesehatan dari sejumlah puskesmas. Tujuannya untuk memperluas kepedulian dan pengetahuan masyarakat luas melalui peran petugas kesehatan dari puskesmas di Kalbar tentang Karhutla, reforestasi ekosistem gambut, lahan rawan kebakaran dan perubahan iklim.

Narasumber sosialisasi dan diseminasi adalah Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar, Marius Marcellus Tj, S.H., M.M dengan tema Kebijakan Penanggulangan Karhutla di Provinsi Kalbar. Narasumber lain adalah dari Tim Restorasi Gambut Provinsi Kalimantan Barat (TRG Kalbar).

Sekurangnya 15 utusan tenaga kesehatan dari sejumlah puskesmas yang mengikuti sosialisasi dan diseminasi yang dilaksanakan pertengahan Februari 2018 tersebut.

Kegiatan yang sama juga dilakukan kepada sekolah-sekolah tingkat SLTA dan SMP untuk memperluas cakupan penerima manfaat dari berbagai kegiatan-kegiatan serupa sebelumnya melalui peningkatan peran pendidik dan lembaga pendidikan. Sekolah SLTA dan SMP peserta aktif sosialisasi dan diseminasi tersebut berasal dari Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Mempawah dan Pontianak.

Meningkatkan peran media

Berdiskusi bersama dengan media cetak, televisi, radio dan media online melalui media gathering bertujuan memperluas dan meningkatkan partisipasi serta pengetahuan masyarakat luas tentang Karhutla, reforestasi ekosistem gambut, lahan rawan kebakaran dan perubahan iklim.

Serangkaian kegiatan telah dilakukan bersama 494 Kepala Keluarga anggota 17 Kelompok Tani dari 7 (tujuh) desa dari Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Ketapang, di antaranya pelatihan pertanian organik dan agroforestri untuk memulihkan ekosistem gambut dan lahan rentan kabakaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam pertanian organik dan agroforestri.

Koordinator kegiatan Perkumpulan Pancur Kasih, L. Tatang, mengatakan pentingnya melibatkan lembaga pendidikan, lembaga kesehatan dan peran media adalah untuk memperluas penerima manfaat kegiatan-kegiatan tersebut. “Di era digital seperti sekarang ini, peran media massa, baik televisi, media cetak, media online dan radio juga sangat penting agar semakin banyak masyarakat mendapatkan informasi mengenai apa dan bagaimana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di daerah Kalimantan Barat ini,” pungkasnya. [* ]

Narasi: RGM.

 

Sumber: https://www.pontianakpost.co.id/perkumpulan-pancur-kasih-bersama-icctf-merespon-perubahan-iklim-dan-karhutla, 26 April 2018

Peta

Pontianak – Koalisi HAK Kalbar mendesak para pihak agar mempercepat penetapan hutan adat di wilayah Kalimantan Barat. Penetapan hutan adat ini dinilai penting agar masyarakat hukum adat dapat lebur dengan hutannya, dan menata kehidupan mereka secara berkelanjutan. “Penetapan hutan adat dalam wilayah MHA penting dan mendesak untuk segera diwujudkan untuk penguatan maupun pengakuan keberadaan MHA di Kalimantan Barat. Adapun target penetapan hutan adat di Kalimantan Barat seluas 656.340,17 hektar pada tahun 2018-2022 yang tersebar di 9 daerah kabupaten” jelas Agustinus Agus, Ketua HAK Kalbar dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penetapan Hutan Adat tingkat Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (5/4/18) di Pontianak. Menurut Agus, sebanyak 1,6 juta hektar luas wilayah adat telah dipetakan di Kalbar.

Banyak permukiman masyarakat hukum adat yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan. Pada satu sisi, keberadaan industri ekstraktif berbasis hutan dan lahan mengancam keberlanjutan sumber daya hutan sebagai ekosistem kompleks tempat masyarakat adat menggantungkan kehidupannya. “Masyarakat hukum adat rentan menjadi korban kriminalisasi hingga penggusuran dari wilayah hidupnya akibat kebijakan berbasis hutan dan lahan yang mengabaikan prinsip persetujuan bebas tanpa paksaan atas hadirnya izin bagi industri ekstraktif, atau kebijakan pembangunan yang kurang berpihak pada penguatan dan perlindungan,” tegas Agus.

Sementara Kepala Dinas Kehutanan Kalbar Marius Marcellus mengatakan bahwa penetapan hutan adat memiliki dasar hukum yang kuat yang mengacu pada Putusan MK No. 35/PUU-X/2012, Peraturan Menteri LHK No. 32 Tahun 2015, Perment No. 34 Tahun 2017, dan Peraturan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan No. 1 Tahun 2016. “Luas potensi hutan adat di Kalbar sampai tahun 2018 mencapai 731.661,40 Ha dan tersebar disembilan kabupaten dengan yang terluas berada di Kabupaten Ketapang 291.296,66 hektar dan Kabupaten Kapuas Hulu dengan 140.173,27 hektar,” jelas Marius Marcellus. Namun sampai saat ini progres penetapan hutan adat di Kalbar sampai 2017 baru empat kabupaten yang sudah memiliki Perda Pengakuan MHA dan kami harapkan untuk kabupaten lainnya melakukan hal yang sama guna memperjelas kedudukan MHA dimata dunia” ujarnya. (CRS)

 

Sumber: http://kalbarupdates.com/kalbar/metropolis/koalisi-hak-kalbar-desak-percepatan-penetapan-hutan-adat/), 6 April 2018.

Denah Kantor

Alamat Kami


Logo Pancur Kasih


Gedung Lantai 2, Kompleks Persekolahan SMP/SMU St. Fransiskus Asisi
Jalan G. S. Mahmud, Gg. Selat Sumba III, Kelurahan Siantan Tengah,
Kecamatan Pontianak Utara, Kalimantan Barat - Indonesia 78243

+62 (561) 887 094
+62 (561) 887 094
kontakkami@pancurkasih.org